Kamis, 01 Maret 2012

Fase Dewasa



A.    Pengertian dan Ciri-ciri Kedewasaan
Dewasa atau adult berasal dari kata kerja latin, seperti juga istilah adolescene- adolescere yang berarti “tumbuh menjadi kedewasaan”. Akan tetapi, kata adult berasal dari bentuk lampau dari kata kerja adultus yang berarti “telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna” atau “telah menjadi dewasa.” Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa dewasa, atau ada juga yang menyebutnya masa adolesen. Ketika mereka meginjak dewasa, pada umumnya mempunyai sikap: menemukan pribadinya, menentukan cita-citanya menggariskan jalan hidupnya,bertanggung jawab, menghimpun norma-norma sendiri.
Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa adolesen, walaupun ada juga yang merumsukkan masa adolesen ini kepada masa dewasa namun demikian dapat disebut bahwa masa adolesen adalah menginjak dewasa yang mereka mempunyai sikap pada umumnya:
a.       Dapat menentukan pribadinya.
b.      Dapat rnenggariskan jalan hidupnya.
c.       Bertanggung jawab.
d.      Menghimpun norma-norma sendiri.
Di periode pra-pubertas oleh Charlotte Buchler dengan kata-kata :perasaan saya tidak enak, tetapi tidak tahu apa sebabnya.” Untuk periode pra-pubertas dilukiskannya sebagai berikut: “Saya ingin sesuatu, tetapi tidak tahu ingin akan apa.” Tetapi saat telah menginjak usia dewasa atau adolesen terlihat adanya kematangan jiwa mereka; “Saya hidup dan saya tahu untuk apa,” menggambarkan bahwa di usia dewasa orang sudah memiliki tanggung jawab serta sudah menyadari makna hidup. Dengan kata lain, orang dewasa nilai-nilai yang yang dipilihnya dan berusaha untuk mempertahankan nilai-nilai yang dipilihnya.
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:
1. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, periode isolasi social, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.
2. Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan social antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
3. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun.Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam system syaraf, perubahan penampilan.
Adapun ukuran kedewasaan yang dapat dilihat dari seseorang, menurut Dr.Harold Shyrock dari Amerika Serikat, ada lima faktor yang dapat menunjukkan kedewasaan adalah sebagai berikut :
1.      Fisik
Secara fisik usia, rangka tubuh, tinggi dan lebarnya tubuh seseorang dapatmenunjukkan sifat kedewasaan pada diri seseorang. Faktor-faktor ini memangbiasa digunakan sebagai ukuran kedewasaan. Akan tetapi segi fisik saja belumdapat menjamin ketepatan bagi seseorang untuk dapat dikatakan telah dewasa.Sebab banyak orang yang sudah cukup usia dan kelihatan dewasa akan tetapiternyata dia masih sering memperlihatkan sifat kekanak-kanakannya. Oleh sebab itu dalam menentukan tingkat kedewasaan seseorang dari segi fisiknya harus pula dengan mengetahui: "Apakah dia dapat menentukan sendiri setiappersoalan yang dia hadapi, dan apakah ia telah dapat membedakan baik-buruknya serta manfaat dan ruginya sebuah permasalahan hidup. Selain itu juga adanya kepercayaan pada diri sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain, tidak cepat naik pitan (marah), serta tidak menggerutu disaat menderita dan menerima cobaan dari Tuhan, sehingga nantinya ia dapat dilihat bagaimana tingkat kedewasaan seseorang tersebut dalam mengatasi semua persoalan hidup yang dia alami
2.      Kemampuan Mental
Dari segi mental atau rohani kedewasaan seseorang dapat dilihat. Orang yangtelah dewasa dalam cara berfikir dan tindaknnya berbeda dengan orang yang masih kekanak-kanakan sifatnya. Dapat berfikir secara logis, pandai mempertimbangkan segala sesuatu dengan adil, terbuka dan dapat menilai semua pengalaman hidup adalah merupakan salah satu ciri-ciri kedewasaan pada diri seseorang. 
Berbagai persoalan hidup ini dapat diatasi bila ada kemampuan mental dalam dirinya.Dan kemampuan mental ini dapat diusahakan perkembangannya bila orang (calon suami dan istri) tidak menutup diri dari kemajuan zaman. Selain itu sering membaca buku-buku atau surat kabar dan majalah adalah cara yang baik untuk memupuk perkembangan mental dalam diri seseorang. Sikap kedewasaan yang sempurna itu jika ada keserasian antara perkembangan fisik dan mentalnya. 
3.      Pertumbuhan Sosial
Sifat kedewasaan seseorang dapat dilihat dari pertumbuhan sosialnya. Pertumbuhan sosial adalah suatu kepahaman tentang bagaimana dia menyayangi pergaulan, bagaimana dia bisa memahami tentang bagaimana watak dan kepribadian seseorang dan bagaimana cara dia mampu membuat dirinya agar disukai oleh orang lain didalam pergaulannya. Perasaan simpatik kepada orang lain dan bahkan terhadap seseorang atau hal-hal yang paling tidak ia sukai sekalipun merupakan ciri kedewasaan secara sosial. Orang yang dapat berbuat seperti itu dia pasti pandai menguasai keadaan meskipun terhadap orang yang berlaku tidak baik terhadap dirinya meskipun untuk hal yang paling menyakitkan dalam hatinya sekalipun.
4.      Emosi
Emosi sangat erat hubungannya dengan segala aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan yang menyangkut sendi-sendi dalam kehidupan berumah tangga. Emosi adalah keadaan batin manusia yang berhubungan erat dengan rasa senang, sedih, gembira, kasih sayang, benci dan lain sebagainya. Kedewasaan seseorang itu dapat dilihat dari cara seseorang dalam mengendalikan emosi ini. Jika orang pandai mengendalikan emosinya maka berarti semua tindakan yang dilakukannya bukan hanya mengandalkan dorongan nafsu, melainkan dia telah menggunakan akalnya juga. Menyalurkan emosi dengan dikendalikan oleh akal dan pertimbangan sehat akan dapat melahirkan sebuah tindakan yang telah dewasa, dan yang tetap akan berada didalam peraturan dan norma-norma yang berlaku didalam agama. Emosi dapat dikendalikan jika dilatih dari hari ke hari. Emosi ini tidak dapat diperoleh secara sekonyong-konyong. Kesungguhan dan kesanggupan seseorang untuk mengendalikan emosi harus sudah dilatih semenjak lama.
Orang yang telah dapat menguasai dan mengendalikan  emosinya dengan disertai oleh kemampuan mental yang cukup dewasa, dia pasti dapat mengendalikan dirinya menuju kehidupan yang bahagia dikarenakan selalu bersifat terbukadalam menghadapi berbagai kenyataan-kenyataan hidup, tabah didalammenghadapi setiap kesulitan dan persoalan hidup dan dapat merasa puas dan sanggup menerima segala sesuatunya dengan lapang dada.
5.      Pertumbuhan Spiritual dan Moral
Faktor kelima yang dapat dijadikan pedoman bahwa seseorang tersebut telah dewasa adalah dengan melihat dari pertumbuhan spiritual dan moralnya. Kematangan spiritual dan moral bagi seseorang yang mendorong dia untuk mengasihi dan melayani orang lain dengan baik. Oleh sebab itu pertumbuhan ini harus sudah dimulai sejak awal dan diperkembangkan untuk dapat menghayati Rahmat Allah SWT. Sehingga dengan demikian orang tersebut bisa dikatan sebagai orang yang pandai mensyukuri nikmat-Nya. Seseorang yang telah berkembang pertumbuhan moral dan spiritualnya akan lebih pandai dan lebih tenang didalam menghadapi berbagai kesulitan dan persoalan hidup yang menimpa pada dirinya, sebab dengan demikian segalanya akan dipasrahkan kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan disertai ikhtiar menurut kemampuannya sendiri.
Selain dari semua ciri kedewasaan tersebut diatas ada satu hal yang harus disanggupi dan merupakan kesungguhan seseorang dalam menghadapi realita kehidupan itu yang merupakan salah satu ciri kedewasaan yang harus dipupuk, dikembangkan, dilatih dan dipelihara dari hari kehari.
Ciri-ciri Kedewasaan antara lain :
1.      Sikap yang tepat
Orang yang ingin belajar untuk lebih dewasa harus mengetahui bagaimana bersikap yang tepat pada kondisi, situasi dan orang yang berbeda-beda.Bagaimana kita bersikap kepada yang lebih tua tentu berbeda dengan bagaimana kita bersikap dengan kawan sebaya, apalagi dengan yang lebih muda. Juga bagaimana kita bersikap yang tepat pada kondisi yang mengharuskan kita seperti itu. Cara kita berbicara, bertingkah, bercanda, dan lain-lain juga harus secara tepat.

2.      Keberanian
Menurut Imam Ibnul Qayyimrahimahullah, keberanian adalah salah satu bentuk kesabaran. Keberanian adalah sikap menahan diri dan terus melangkah walaupun muncul ketakutan, ketidakberdayaan, sedikit harapan dan rasa sakit. Jadi, keberanian bukan hanya dalam bentuk kekerasan. Orang yang masih berjuang di tengah kekurangan, adalah orang yang berani. Seorang pengusaha dengan modal tidak seberapa adalah orang yang berani, dan masih banyak lagi.Sebenarnya, karakter keberanian sebagai ciri kedewasaan, bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Kita lihat, seekor ayam yang penakutpun akan menjadi galak dan berani ketika mempunyai anak yang masih kecil. Kita bisa mengambil hikmah dari hal ini, bahwa karakteristik melindungi harus kita miliki agar salah satu ciri kedewasaan terpenuhi.

3.      Kesabaran
            Orang yang dewasa adalah orang yang mampu menahan diri dari sesuatu yang menyenangkan maupun yang tidak mengenakkan.Ketika ditimpa musibah, kita harus bersabar. Ketika mendapatkan nikmat, bentuk kesabaran kita adalah bersyukur dan menahan diri untuk tidak pamer, meluaskan hati kita untuk berbagi dan bentuk kesabaran yang lain.Diantara bentuk kesabaran adalah sikap tenang ketika ditimpa musibah.Dengan tidak menjerit-jerit, menjambak rambut dan tindakan negatif lainnya.Manusiawi ketika kita bersedih saat kehilangan sesuatu, tapi diperlukan sebuah kesabaran dalam menyikapinya.Nah, matang atau tidak matangnya pikiran kita bisa dilihat dari hal ini. Memang sangat berat, oleh sebab itu kita harus meminta pertolongan kepada Allah subhanahu wa Ta’ala.

4.      Tanggung Jawab
Tanggung jawab mempunyai arti menjaga dan menunaikan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Setiap manusia mempunyai amanah yang harus ia jaga. Tubuh adalah amanah, keluarga adalah amanah, pekerjaan adalah amanah dan masih banyak lagi.Ketika manusia sudah tidak mau menjaga dan menunaikan amanah dengan sebaik-baiknya, yang terjadi adalah kerusakan.Oleh sebab itu, alangkah lucunya ketika ada orang yang tidak sanggup menjaga sebuah amanah, tetapi meminta amanah itu diberikan kepadanya.Apa yang terjadi ketika yang dinamakan amanah itu adalah sebuah masyarakat yang majemuk dalam hal keyakinan, budaya dan pikiran? Sepertinya terlalu berat membahas itu, lebih baik kita membahas tentang menjaga amanah sebagai bentuk kedewasaan saja. Tanggung jawab atau menjaga amanah ini adalah salah satu ciri yang membedakan seorang dewasa dengan seorang yang belum dewasa. Semakin dewasa seseorang, semakin bertanggung jawablah dia. Sebab, dia mengetahui bahwa segala sesuatu ketika dijaga dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya, niscaya mendapat hasil yang baik (kecuali Allah subhanahu wa Ta’ala berkehendak lain).Seperti petani yang menjaga tanamannya, dia rawat dengan sebaik-baiknya. Dia jauhkan dari hama dan burung yang mengganggu. Hasilnya, dia menunggu dengan optimis.Begitupun amanah, ketika dia jaga dengan baik-baik, dia tunaikan dengan baik-baik, hasilnya bisa dia petik dengan penuh optimis.Tapi orang yang bijaksana, tidak begitu mementingkan hasil. Mereka bertanggung jawab karena memang mereka mencintainya sebagai sebuah proses.

5.      Kepercayaan Diri
Mendefinisikan sebagai sebuah harapan positif bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Ini sebagai sebuah bentuk kerendahan hati kita terhadap Allah subhanahu wa Ta’ala, sebab segala sesuatu adalah milikNya, segala yang kita dapatkan adalah karena karunia-Nya.

Berbicara mengenai kepercayaan diri, CR Synder, professor klinis dari University of Kansas, saat meneliti 200 mahasiswa tingkat awal menemukan bahwa mahasiswa yang memiliki harapan positif memiliki prestasi lebih baik dan mampu menyelesaikan kuliah lebih cepat daripada mahasiswa yang berpikiran negatif terhadap masa depan mereka. Selain itu, Lewis Curry, Phd, profesor psikologi olahraga dari University of Montana, menguji 106 atlet perempuan, menemukan bahwa atlet yang sukses dalam pertandingan adalah mereka yang memiliki harapan positif terhadap prestasinya. Sebaliknya, mereka yang berpikiran negatif menghasilkan sikap pesimis, dan cenderung gagal meraih hasil yang gemilang.

Begitupun terhadap orang yang ingin menjadi lebih dewasa, harus mempunyai harapan positif untuk itu. Sebab hal tersebut merupakan salah satu kekuatan dan pondasi yang diperlukan. Ketika kekuatan dan pondasi tersebut rapuh, dikhawatirkan akan ambruk. Kata ambruk adalah kiasan dari kegagalan dalam meraih kematangan. Kata ini juga bisa berarti, tidak adanya kepercayaan dari orang lain kepada kita. Bagaimana bisa kita berharap agar orang lain percaya kepada kita, sedang kepada diri sendiri saja tidak mempercayainya.

6.      Berpikir Secara Luas
Berpikir secara luas berarti berpikir dengan mempertimbangkan berbagai aspek. Sebab segala sesuatu terkadang tidak sesederhana yang dipikirkan. Banyak hal yang dikira sederhana, tapi berdampak luas dan panjang. Sehingga diperlukan sikap hati-hati dan tidak tergesa-gesa sebelum memutuskan melakukan sesuatu.
Aspek yang harus dipertimbangkan terdiri dari akibat dan konsekuensi, pengaruh, hal yang diluar kehendak, sudut pandang yang lain, dan perasaan orang lain.

Ø  Aspek yang pertama adalah akibat dan konsekuensi. Ini adalah aspek yang paling penting. Tidak  ada yang meninggalkannya kecuali oleh orang yang tergesa-gesa dan sembrono. Sebab tidak ada suatu kejadian pun yang terjadi, tanpa ada penyebabnya. Segala yang kita nikmati sekarang, adalah buah tindakan kita di waktu yang lalu. Dan apa yang kita dapatkan di masa depan adalah akibat tindakan kita saat ini.Akibat dan konsekuensi yang didapatkan terkadang bersifat tetap dan menyakitkan. Atau bahkan kehancuran. Oleh sebab itu hal yang pertama kita pertimbangkan adalah sesuai atau tidaknya tindakan kita dengan aturan agama. Setelah itu baru melihat yang lain, seperti apakah tindakan kita akan menyebabkan kehormatan jatuh, dan sebagainya.

Ø  Aspek yang kedua adalah pengaruh. Bisa saja perbuatan seseorang berpengaruh secara luas dan merugikan orang yang sebenarnya tidak bersalah. Sifat kebanyakan manusia, menyamaratakan sesuatu karena pengaruh kedekatan. Misalnya, seorang yang melakukan kejahatan, menyebabkan anak, istri dan keluarganya turut dipersalahkan. Kasus Gayus Tambunan contoh yang lain, tindakan  satu oknum pegawai pajak, mencemarkan  institusi dan seluruh pegawai pajak. Orang yang bijaksana tidak akan menyebabkan orang yang lain susah, apalagi orang terdekatnya akibat tindakan buruknya.

Ø  Aspek yang ketiga, hal yang diluar kehendak. Banyak hal terjadi tanpa bisa kita prediksikan. Untuk itu kita perlu untuk mengantisipasinya sebelum terjadi. Apalagi di zaman informasi seperti ini, dimana banyak aturan berubah dan adanya pendobrakan besar-besaran terhadap batas-batas yang berlaku pada masa sebelumnya.Apa yang berlaku pada masa sebelumnya, belum tentu berlaku pada zaman ini.  Apa yang berlaku tahun ini, belum tentu berlaku pada tahun mendatang. Ketika kita mendapatkan keamanan kerja saat ini, belum tentu beberapa tahun lagi seperti itu. Antisipasi tidak menafikkan tawakal, sebab kita dituntut untuk berusaha dengan sebaik-baiknya.

Ø  Aspek yang keempat, sudut pandang yang lain. Kebuntuan pikiran dan penderitaan  terjadi ketika kita melihat sesuatu hanya dari sudut pandang sendiri. Paradigma diri kita, terkadang terkungkung oleh egoisme, kepentingan, dan sentimen pribadi. Dengan melihat sudut pandang  yang lain, diharapkan diri kita akan ‘kaya’ dan lebih mudah ketika kita dihadapkan dengan kesulitan.

Ø  Aspek yang kelima, perasaan orang lain. Sebelum bertindak dan melakukan sesuatu yang melibatkan orang lain, kita harus mengetahui dan menjaga perasaannya. Apakah ada yang merasa tersinggung dan dirugikan karena tindakan kita. Termasuk tindakan tidak terpuji ketika kita berbuat tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Ketika meremehkannya, jangan salah siapa-siapa ketika kita tidak disukai orang lain.

B.     Sikap Keberagaman Pada Masa Dewasa
Menurut H. Carl Witherington, di periode adolesen ini pemilihan terhadap kehidupan mendapat perhatian yang tegas. Sekarang mereka mulai berpikir tentang tanggung jawab sosial moral, ekonomis, dan keagamaan (M. Buchori, 1982:145). Pada masa adolesen anak-anak berusaha untuk mencapai suatu cita-cita yang abstrak. Di usia dewasa biasanya seseorang sudah memilliki sifat kepribadian yang stabil. Stabilisasi sifat-sifat kepribadian ini antara lain terlihat dari cara bertindak dan bertingkah laku yang agak bersifat tetap (tidak mudah berubah) dan selalu berulang kembali. (M. Buchori, 1982:99).
Kemantapan jiwa seorang dewasa ini setidaknya memberikan gambaran tentang bagaimana sikap keberagamaan pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap system nilai yang bersumber dari ajaran agama maupun yang bersumber dari norma-norma lain dalam kehidupan. Pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan pemikiran yang matang. Berdasarkan hal ini, maka sikap keberagamaan seseorang di usia dewasa sulit untuk diubah. Jika pun terjadi perubahan mungkin proses disitu terjadi setelah didasarkan atas pertimbangan yang matang.
Jika nilai-nilai agama yang mereka pilih dijadikan pandangan hidup, maka sikap keberagamaan akan terlihat pula dalam pola kehidupan mereka. Sikap keberagamaan itu akan dipertahankan sebagai identitas dan kepribadian mereka. Sikap keberagamaan ini membawa mereka secara mantap menjalankan ajaran agama yang mereka anut.Sehingga, tak jarang sikap keberagamaan ini dapat menimbulkan ketaatan yan berlebihan dan menjurus ke sikap fanatisme. Karena itu, sikap keberagamaan seorang dewasa cenderung didasarkan atas pemilihan terhadap ajaran agama yang dapat memberikan kepuasan batin atas dasar pertimbanan akal sehat.
Sejalan dengan tingkat perkembangan usianya, maka sikap keberagamaan pada orang dewasa antara lain memiliki ciri sebagai berikut :
1.      Menerima kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar ikut-ikutan.
2.      Cenderung bersifat realitas, sehinggga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
3.      Bersikap positif terhadap ajaran dan norma-norma agama, dan berusaha untuk mempelajari dan memperdalam pemahaman keagamaan.
4.      Tingkat ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5.      Bersikap lebih terbuaka dan wawasan yang lebih lua\s.
6.      Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
7.      Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8.      Terlihat adanya hubungan antar sikap keberagamaan dengan kehidupan social, sehingga perhatian terhadap kepentingan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
C.    Kriteria Orang Yang Matang Beragama
Kemampuan seseorang untuk mengenali atau memahami nilai agama yang terletak pada nilai-nilai luhurnya serta menjadikan nilai-nilai dalam bersikap dan bertingkah laku merupakan ciri dari kematangan beragama. Jadi, kematangan beragama terlihat dari kemampuan seseorang untuk memahami, menghayati serta serta mengaplikasikan nilai-nilai luhur agama yang dianutnya dalam kehidupan sehari-hari.
William sturbuck, seperti dikemukakan oleh william james berpendapat bahwa penderitaan yang dialami disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Alasan ini pula tampaknya yang menyebabkan dalam psikologi agama dikena dua sebutan, yaitu the sick soul dan the suffering. Tipe yang pertama dilatarbelakangi oleh faktor intern (dalam diri) sedangkan yang kedua adalah karena faktor ekstern (dari luar).
a.       Faktor intern yang diperkirakan menjadi penyebab dari timbulnya sikap keberagamaan yang tidak lazim adalah :
1.      Tempramen
Tempramen merupakan salah-satu unsur dalam membentuk kepribadian manusia sehingga dapat tercermin dari kehidupan kejiwaan seseorang. Tingkah laku yang didasarkan kondisi tempramen memegang peranan penting dalam sikap keagamaa seseorang. Seseorang ang melancholic akan berbeda dengan orang yang berkepribadian dysplastis dalam sikap dan pandangannya terhadap ajaran agama. 
2.      Gangguan jiwa
Orang yang mengidap gangguan jiwa menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya. Tindak-tanduk keagamaan dan pengalaman keagamaan yang ditampilkannya tergantung dari gejala gangguan jiwa yang mereka idap. Seperti; skizofrenia, paranoia,dll. 
3.      Konflik dan keraguaan
Konflik kejiwaan yang terjadi pada diri seseorang mengenai keagamaan mempengaruhi sikap keagamaannya. Mungkin bedasarkan kesimpulannya ia akan memilih salahsatu agama yang diyakininya ataupun meninggalkannya sama sekali. Keyakinan agama yang dianut berdasarkan pemilihan yang matang sesudah terjadinya konflik kejiwaan akan lebih dihargai dan dimuliakan. Konflik dan keraguan ini dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap agama seperti taat, fanatik ataupun agnostis hingga ateis.
4.      Jauh dari tuhan
Orang yang dalam kehidupannya jauh dari ajaran agama, lazimnya akan merasa dirinya lemah dan kehilangan pegangan saat menghadapi cobaan. Ia seakan merasa tersisih dari curahan rahmat tuhan. Perasaan ini mendorongnya untuk lebih mendekatkan diri kepada tuhan serta berupaya mengabdikan diri secara sungguh-sungguh. Hal ini menyebabjan terjadinya semacam perubahan sikap keagamaan pada dirinya.
b.      Faktor ekstern yang diperkirakan turut mempengaruhi sikap keagamaan secara mendadak, adalah :
1.      Musibah
Terkadang musibah yang serius dapat mengguncangkan kejiwaan seseorang. Keguncangan jiwa ini sering pula menimbulkan kesadaran pada diri manusia berbagai tafsiean. Bagi mereka yang semsa sehatnya kurang memiliki pengalaman kesadaran agama yang cukup umumnya menafsirkan musibah sebagai peringatan tuhan kepada dirinya.
2.      Kejahatan
Mereka yang menekuni kehidupan di lingkungan dunia hitam, baik sebagai pelaku maupun sebagai pendukung kejahatan, umumnya akan mengalami guncangan batin dan rasa berdosa. Perasaan itu mereka tutupi dengan perbuatan yang bersifat kompensatif, seperti melupakan sejenak dengan minuman keras, judi, dll. Namun, untuk menghilangkan keguncanggan batin tersebut sering tak berhasil. Karena itu, jiwa mereka labil dan terkadang dilampiaskan dengan tindakan yang brutal, pemarah, mudah tersinggung, dan tindakan negatif lainnya.
Dalam bukunya The Varieties Of Religious Experience William James menilai secara garis besar sikap dan prilaku keagamaan itu dapat dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu :
1. Tipe Orang yang Sakit Jiwa (The Sick Soul)
Menurut William James,sikap keberagamaan orang yang sakit jiwa ini ditemui pada mereka yang pernah mengalami latar belakang kehidupan keagamaan yang terganggu. Maksudnya orang tersebut meyakini suatu agama dan melaksanakan ajaran agama tidak didasarkan atas kematangan beragama yang berkembang secara bertahap sejak usia kanak-kanak hingga menginjak usia dewasa seperti lazimnya yang terjadi pada perkembangan secara normal. Mereka meyakini suatu agama dikarenakan oleh adanya penderitaan batin antara lain mungkin diakibatkan oleh musibah, konflik batin ataupun sebab lainnya yang sulit diungkapkan secara ilmiah.
Adapun ciri-ciri tindak keagamaan mereka yang mengalami kelainan kejiwaan itu umumnya cenderung menampilkan sikap :
*      Pesimis
Dalam mengamalkan ajaran agama mereka cenderung bersikap pasrah diri kepada nasib yang telah mereka terima.Mereka menjadi tahan menderita dan segala penderitaan menyebabkan peningkatan ketaatanya.Penderitaan dan kenikmatan yang mereka mereka percayai sepenuhnya sebagai azab dan rahmat tuhan.Mereka cenderung lebih mawas diri dan terlibat dalam masalah pribadi masing-masing dalam mengmalkan ajaran agama.
*      Intovert
Sifat pesimis membawa mereka untuk bersikap objektif.Segala marabahaya dan penderitaan selalu dihubungkannya dengan kesalahan diri dan dosa yang telah diperbuat.Dengan demikian, mereka berusaha untuk menebusnya dengan mendekatkan diri kepada tuhan melalui pensucian diri.Cara bermeditasi kadang-kadang merupakan pilihan dalam memberi kenikmatan yang dapat dirahasiakan oleh jiwanya.
*      Menyenangi paham yang ortodoks
Sebagai pengaruh sifat pesimis dan introvert kehidupan jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.
*      Mengalami proses keagamaan secara non-graduasi
Proses timbulnya keyakinan terhadap jaran agama umumnya tidak berlangsung melalui prosedur yang biasa, yaitu dari tidak tahu menjadi tahu dan kemudian mengamalkannya dalam bentuk amalan rutin yang wajar. Tindak keagamaan yang mereka lakukan didapat dari proses pendekatan, mungkin karena rasa berdosa, ataupun perubahan keyakinan maupun petunjuk tuhan. Jadi, timbulnya keyakinan beragama pada mereka ini berlangsung melalui proses pendadakan dan perubahan yang tiba-tiba.
2. Tipe Orang yang Sehat Jiwa (Healthy-Minded-Ness)
Ciri dan sifat agama pada orang yang sehat jiwa menurut W. Starbuck yang dikemukakan oleh W. Houston Clark dalm bukunya Religion Psychology adalah :
*      Optimis dan gembira
Orang yang sehat jiwa menghayati segala bentuk ajaran agama dengan perasaan optimis.Pahala menurut pandangannya adalah sebagai hasil jerih payah yang diberikan Tuhan.Sebaliknya, segala bentuk musibah dan penderitaan yang dianggap sebagai keteledoran dan kesalahan yang dibuatnya dan tidak beranggapan sebagai peringatan Tuhan terhadap dosa manusia.Mereka yakin bahwa tuhan bersifat pengasih dan penyayang bukan pemberi azab.
*      Ektrovet dan tak mendalam
Sikap optimis dan terbuka yang dimiliki orang yang sehat jasmani ini menyebabkan mereka mudah melupakan kesan-kesan buruk dan luka hati yang tergores sebagai ekses religiusitas tindakannya. Mereka selalu berpandangan keluar dan membawa suasana hatinya lepas dari kungkungan ajaran keagamaan yang terlampau rumit. Mereka senang kepada kemudahan dalam melaksanakan ajaran agama. Sebagai akibatnya, mereka kurang senang mendalami ajaran agama. Dosa mereka anggap sebagai akibat perbuatan mereka yang keliru.
*      Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal
Sebagai pengaruh kepribadian yang ekstrovet maka mereka cenderung :
1) Menyenangin teologi yang luwes dan tidak kaku
2) Menunjukkan tingkah laku keagamaan yang lebih bebas
3) Mempelopori pembelaan terhadap kepentingan agama secara social
4) Menekankan ajaran cinta kasih daripada kemurkaan dan dosa
5) Tidak menyenangi implikasi penebusan dosa dan kehidupan kebiaraan
6) Bersifat liberal dalam menafsirkan pengertian ajaran agama. Misalnya, dalam penafsiran ayat injil yang berbunyi “jika tangan saya menyakitimu, maka potonglah ia” diterjemahkan dengan “jika dosa, iblis, dan penderitaan menggangumu maka jangan pedulikan ia”.
7) Selalu berpandangan positif
8) Berkembang secara graduasi. Maksudnya mereka meyakini ajaran agama melalui proses yang wajar dan tidak melalui proses pendadakan.
D.    Masalah-Masalah Keberagaman Pada Masa Dewasa
Seorang ahli psikologi Lewis Sherril, membagi masalah-masalah keberagamaan pada masa dewasa sebagai berikut :
1.      Masa dewasa awal, masalah yang dihadapi adalah memilih arah hidup yang akan diambildengan menghadapi godaan berbagai kemungkinan pilihan.
2.      Masa dewasa tengah, masalah sentaral pada masa ini adalah mencapai pandangan hidup yang matang dan utuh yang dapat menjadi dasar dalam membuat keputusan secara konsisten.
3.      Masa dewasa akhir, ciri utamanya adalah ‘pasrah’. Pada masa ini, minat dan kegiatan kurang beragama. Hidup menjadi kurang rumit dan lebih berpusat pada hal-hal yang sungguh-sungguh berarti. Kesederhanaan lebih sangat menonjol pada usia tua.


KESIMPULAN
Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung, dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya.
Kestabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kestabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan. Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. Kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA
·       Prof. Dr. H. Jalaludin. Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007
·         Sururin, M.Ag. Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004 hal. 83
·         Ahmad Sidrotul Muntaha, http://www.perkembangan-agama-pada-masa-orang-dewasa.co.id
·         Abdul Katar Al-Ghazali, perkernbangan-Jiwa-beragarna-pada-orang.htm1, www.google.
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share